Bayangkan ini: Kamu sedang mempersiapkan presentasi penting di kantor. Kamu sudah berlatih berjam-jam, menyusun slide yang sempurna, dan memastikan semuanya rapi. Tapi saat berdiri di depan cermin, suara kecil di dalam kepalamu mulai bicara, “Kamu nggak cukup bagus. Semua orang pasti akan melihat kesalahanmu. Kamu nggak pantas untuk berhasil.”

Tiba-tiba, kepercayaan dirimu goyah. Padahal, kamu sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Suara kecil itu, yang sering kita sebut inner critic, bisa menjadi penghalang besar dalam perjalanan menuju kesuksesan dan kebahagiaanmu.


bahaya inner critic

Apa Itu Inner Critic dalam Psikologi?

Inner critic adalah suara internal yang memberikan kritik atau evaluasi terhadap dirimu sendiri. Dalam psikologi, ini adalah bagian dari dialog internal yang muncul akibat pengalaman masa lalu, nilai-nilai yang kita pelajari, dan ekspektasi sosial.

Sebenarnya, inner critic tidak selalu buruk. Dalam dosis yang sehat, dia membantu kita untuk introspeksi, memperbaiki diri, dan mencegah kesalahan yang sama terulang. Tapi, masalah muncul ketika kritik ini menjadi terlalu keras, berlebihan, atau tidak proporsional dengan kenyataan.


Apa Bahaya Jika Terlalu Sering Melakukan Inner Critic yang Salah?

  1. Menurunkan Kepercayaan Diri
    Ketika suara dalam kepala terus-menerus mengatakan bahwa kamu tidak cukup baik, lama-lama kamu mulai mempercayainya. Ini bisa membuatmu ragu mengambil peluang besar dalam hidup.
    Contoh: Kamu menolak promosi di tempat kerja karena merasa tidak mampu, padahal atasanmu percaya pada kemampuanmu.
  2. Meningkatkan Risiko Stres dan Depresi
    Kritik yang berlebihan menciptakan tekanan mental yang bisa berdampak pada kesehatan psikologis. Kamu jadi lebih mudah merasa cemas dan bahkan terjebak dalam perasaan tidak berharga.
  3. Membuat Hubungan Bermasalah
    Jika kamu terus-menerus merasa tidak cukup baik, itu bisa memengaruhi cara kamu berinteraksi dengan orang lain. Kamu mungkin jadi terlalu defensif, mudah tersinggung, atau menarik diri dari hubungan.
  4. Menghambat Kreativitas dan Inovasi
    Inner critic yang keras membuatmu takut mengambil risiko atau mencoba hal baru karena takut gagal atau dikritik.

Bagaimana Melakukan Inner Critic yang Sehat?

  1. Kenali Suara Inner Critic
    Langkah pertama adalah menyadari kapan inner critic mulai berbicara. Biasanya, suara ini muncul saat kamu merasa tidak nyaman, menghadapi tantangan besar, atau setelah membuat kesalahan.
    Tips Praktis: Cobalah mencatat pikiran negatif yang muncul. Misalnya, tulis di jurnal, “Hari ini aku merasa gagal karena…” Dengan mengenal pola pikir ini, kamu bisa mulai mengendalikannya.
  2. Ubah Perspektif Inner Critic
    Daripada membiarkan inner critic menjadi musuh, ubah cara kamu melihatnya. Anggap suara ini sebagai mentor yang terlalu jujur tapi bermaksud baik. Tugasmu adalah menyaring kritik yang membangun dan membuang yang destruktif.
    Contoh: Jika suara itu berkata, “Kamu payah dalam berbicara di depan umum,” ubah menjadi, “Kamu bisa belajar untuk lebih baik dalam berbicara di depan umum.”
  3. Latih Self-Compassion
    Berbicara pada diri sendiri dengan belas kasih adalah cara ampuh untuk menyeimbangkan inner critic. Tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang akan aku katakan pada sahabatku jika dia mengalami hal ini?” Lalu gunakan kata-kata itu pada dirimu sendiri.
  4. Gunakan Fakta untuk Melawan Kritik yang Tidak Rasional
    Tantang pikiran negatif dengan fakta. Jika inner critic berkata kamu gagal total dalam suatu proyek, lihat kembali data atau umpan balik dari orang lain. Biasanya, kenyataannya tidak seburuk yang kamu pikirkan.
  5. Cari Dukungan Eksternal
    Kadang, kita membutuhkan perspektif dari orang lain untuk melawan kritik internal yang terlalu keras. Bicarakan perasaanmu dengan teman, mentor, atau bahkan terapis.
  6. Praktikkan Mindfulness
    Meditasi atau teknik pernapasan bisa membantu kamu menyadari bahwa pikiran hanyalah pikiran, bukan fakta. Ini membantu kamu menjaga jarak dari kritik internal yang destruktif.

cara menghadapi inner critic

Contoh Situasi dan Solusi

  • Situasi: Kamu gagal memenuhi target penjualan bulanan dan inner critic mulai menyerang, “Ini karena kamu malas dan tidak berbakat.”
    • Solusi: Akui perasaan kecewa, lalu tanyakan, “Apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki strategi ini?” Fokus pada solusi, bukan menyalahkan diri sendiri.
  • Situasi: Saat diminta memimpin proyek, kamu ragu dan berpikir, “Aku tidak cukup pintar untuk ini.”
    • Solusi: Ingatkan dirimu pada pengalaman sukses sebelumnya dan bagaimana kamu sudah diandalkan oleh timmu.

Kesimpulan

Inner critic adalah bagian alami dari diri kita, tapi cara kita meresponsnya menentukan apakah itu menjadi alat untuk pertumbuhan atau penghalang kesuksesan. Dengan mengenal, mengelola, dan melatih inner critic yang sehat, kamu bisa mengubah suara yang awalnya destruktif menjadi pemandu yang membangun.

Jadi, saat suara kecil itu muncul lagi, berhenti sejenak, dengarkan, lalu jawab dengan belas kasih dan fakta. Ingat, kamu selalu punya pilihan untuk menjadi sahabat terbaik bagi dirimu sendiri. 🌟

Profil coach Roy Biantoro
Seorang pengusaha muda yang sering berbagi ke berbagai perusahaan, instansi pemerintah dan lembaga pendidikan. Coach Roy udah membagikan ilmu di bidang penjualan (selling), komunikasi, kepemimpinan, kerjasama tim, pelayanan serta bagaimana meningkatkan motivasi tim.
Ayo rasakan perubahan di tim Anda dengan training bersama coach Roy Biantoro. Hubungi kami di 08954 1283 3285

Ingin Meningkatkan Kepercayaan Diri, Karir atau Bisnis? Yuk Ikut Seminar Public Speaking di Bandung

Mau Ebook & Webinar Gratis

ebook gratis

Silahkan Isi Form Berikut Ini Dulu :

Pantes gak kritis, kamu kejebak confirmation bias kan ? Pelajari biar kamu lebih kritis.

Bayangkan ini: Kamu sedang berdiskusi dengan teman-teman kantor tentang proyek baru. Kamu yakin banget bahwa ide yang kamu ajukan adalah yang paling efektif. Lalu, ketika ada data yang menunjukkan kalau pendekatan lain mungkin lebih baik, kamu malah sibuk mencari...

2 tipe manusia waktu ngadepin masalah, flight or fight. Mana yang bagus buat mental health ?

Bayangkan ini, kamu sedang berada di ruang kerja, tenggelam dalam laporan yang harus selesai sebelum jam lima sore. Tiba-tiba, bosmu masuk dengan wajah serius dan berkata, “Ada masalah besar. Klien kita tidak puas, dan kita butuh solusi cepat!” Kamu langsung merasa...

Mau terus semangat ? Kamu harus dapetin positive reinforcement waktu kerja ! 

Ceritanya, kamu adalah seorang manajer baru di sebuah perusahaan. Ada seorang karyawan, Andi, yang kelihatannya selalu datang tepat waktu dan rajin menyelesaikan pekerjaannya. Tapi, kamu merasa ada yang kurang. Kinerjanya konsisten, tapi dia terlihat datar—seolah-olah...

Setelah kamu paham attachment styles kamu gak bakal bingung lagi kalau di ghosting sahabatmu

Kamu punya dua teman baik: Rina dan Dika. Ketika kamu tiba-tiba menghilang dari grup chat selama seminggu karena sibuk, respons mereka benar-benar berbeda. Rina langsung menelpon, bertanya apakah kamu baik-baik saja. Nada suaranya terdengar cemas, tapi dia juga...

Sabar itu bagus tapi kamu jangan sampai emotion repression. Mental health kamu bisa rusak.

Kamu baru saja keluar dari ruang rapat setelah perdebatan panas dengan atasanmu. Ada satu momen di mana kamu merasa ingin meledak, ingin mengatakan semua yang ada di pikiranmu. Tapi kamu menahannya. Sebaliknya, kamu hanya tersenyum kecil, mengangguk, lalu keluar...

Saya gak bisa tidur ternyata saya ngalamin hypervigilance, jangan jangan kamu juga ?

Hari itu, kamu sedang duduk di sebuah kafe, menikmati secangkir kopi setelah hari yang panjang di kantor. Tapi meski suasananya tenang, pikiranmu justru tidak berhenti bergerak. Setiap pintu yang terbuka membuatmu menoleh. Suara tawa dari meja sebelah terasa terlalu...

Dapatkan kebahagiaan dengan self compassion, bukan lembek tapi demi mental health.

Kamu baru saja pulang dari kantor setelah hari yang berat. Hari ini, semua yang kamu coba rasanya gagal. Presentasi yang kamu persiapkan semalaman tidak berjalan seperti rencana, dan atasanmu memberikan kritik yang menurutmu menyakitkan. Di perjalanan pulang,...

Sabar kamu gak males kamu cuman burnout. Yuk semangat lagi artikel ini

Bayangkan ini: Kamu sudah bekerja non-stop selama tiga bulan terakhir. Setiap hari penuh dengan deadline, meeting, dan revisi yang seakan tidak ada habisnya. Akhir pekan? Ah, jangan harap bisa santai, karena ada kerjaan tambahan yang harus diselesaikan. Kamu merasa...

Bahaya yang gak keliatan ! Ternyata Cognitive dissonance yang bikin kamu stress

Kamu sedang duduk di sebuah kafe dengan seorang teman baikmu, Andi. Obrolan awalnya santai, membahas pekerjaan dan rencana liburan. Namun, suasana berubah ketika kamu membahas investasi. Kamu mengatakan, “Menurutku, investasi di reksa dana lebih aman untuk pemula.”...

Tim Anda Sering Salah Paham? Mungkin Ini Penyebabnya (dan Solusinya)!

Apa Hubungan Critical Thinking dengan Kemampuan Berargumen? Rahasia di Balik Argumen yang Meyakinkan Contoh Nyata di Dunia Kerja: Ketika Logika Mengalahkan Emosi Bagaimana In-House Training Bisa Membangun Skill Ini? Pernah memperhatikan bagaimana beberapa orang bisa...