Apakah alat promosi paling tradisional ?

Brosur, spanduk dan poster.

Sejak ditemukannya alat cetak kertas oleh Johanes Gutenberg di tahun 1400 an. Maka penggunaan kertas sebagai alat penyebaran informasi semakin marak dilakukan. Informasi yang disebarkan bisa berupa berita, proganda dan tentu saja promosi.

Kita membagi alat promosi ini menjadi 2 yaitu yang bisa dibawa kemana-mana seperti Brosur dan Flyer (selebaran) dan yang menetap seperti poster – billboard – spanduk.

Brosur biasanya terdiri dari beberapa halaman dengan informasi yang lebih padat, sedangkan flyer biasanya hanya selembar dengan informasi terbatas.

Brosur lebih ditekankan pada pemberian informasi seperti harga, spesifikasi barang, detil dari barang dan tentu saja alamat kontak. Flyer lebih ditekankan pada ajakan untuk bertindak maka biasanya yang tercantum pada flyer adalah promosi.

Kadang kita salah menggunakan kedua media ini. Kita memaksakan sebuah flyer (yang hanya selembar kertas) untuk menuangkan semua detil yang kita ingin sampaikan ke calon konsumen.

Akibatnya ?

Tulisan dibuat kecil kecil, gambar dibuat kecil. Tujuan awal yang kita inginkan untuk memberi informasi menjadi meleset karena calon konsumen tidak mau membacanya.

Sebaliknya.

Ada juga yang membuat brosur penuh dengan promo. Dampaknya calon konsumen menjadi bingung. Saat kita dibombardir dengan banyak pilihan , otak kita tidak dapat menentukan . Akibatnya calon konsumen tidak bertindak sama sekali.

Oleh karena itu kita harus menentukan apa tujuan dari promosi dilakukan.

#30dwcday18