Bayangkan kamu lagi duduk di kafe sama sahabatmu. Setelah beberapa tegukan kopi, suasana makin hangat, dan kamu mulai merasa nyaman untuk berbagi cerita. Kamu mulai buka-bukaan soal pengalaman pribadi, sesuatu yang mungkin biasanya kamu simpan sendiri. Nah, momen ini adalah salah satu bentuk self-disclosure dalam komunikasi, di mana kamu membagikan informasi pribadi yang biasanya nggak semua orang tahu. Self-disclosure ini memang bisa menguatkan hubungan, tapi kalau nggak hati-hati, juga bisa jadi bumerang, apalagi kalau berujung pada oversharing.

self disclosure

Apa Itu Self-Disclosure dalam Komunikasi?

Self-disclosure adalah proses membuka diri dengan cara berbagi informasi pribadi kepada orang lain. Informasi yang kita bagi ini bisa berupa perasaan, pengalaman hidup, pendapat, bahkan rahasia yang selama ini kita simpan. Proses ini sebenarnya bisa memperdalam koneksi dan kepercayaan antar-individu karena dengan berbagi cerita atau perasaan, kita menunjukkan sisi autentik dari diri kita.

Contohnya, saat kamu berbicara dengan teman dekat tentang hal-hal yang membuatmu stres, itu adalah self-disclosure. Atau, saat kamu ceritakan pengalaman pahit yang pernah kamu alami di masa lalu, kamu membuka diri dan memberikan gambaran lebih dalam tentang siapa dirimu sebenarnya. Tapi perlu diingat, self-disclosure ini bukan sekadar bicara soal diri sendiri. Ini lebih kepada membagikan sesuatu yang bisa memberikan makna atau memperkuat hubungan dengan orang lain.

Bagaimana Melakukan Self-Disclosure yang Nyaman untuk Lawan Bicara?

Nah, meskipun self-disclosure penting untuk mempererat hubungan, cara kita melakukannya juga harus diperhatikan agar lawan bicara merasa nyaman. Ada beberapa langkah untuk berbagi secara sehat:

  1. Kenali Batasan Lawan Bicara
    Tidak semua orang nyaman mendengarkan cerita yang terlalu personal, terutama kalau kamu baru kenal. Kenali tanda-tanda apakah lawan bicaramu tertarik atau malah merasa canggung. Misalnya, kamu bisa mulai dengan cerita yang ringan terlebih dulu. Kalau mereka merespons dengan antusias, bisa jadi mereka terbuka untuk mendengarkan lebih banyak.
  2. Mulailah dengan Informasi yang Relevan
    Bicaralah sesuai dengan konteks obrolan. Jika topik sedang berhubungan dengan pekerjaan, mungkin lebih baik berbagi cerita yang terkait dengan pengalaman karier, bukan langsung loncat ke cerita pribadi yang sangat sensitif. Ini akan membuat lawan bicara merasa lebih terhubung, tanpa membuat suasana jadi terasa janggal.
  3. Bersikap Jujur tapi Tetap Terukur
    Kunci dari self-disclosure yang nyaman adalah kejujuran, tapi kejujuran yang disertai batasan. Misalnya, saat kamu menceritakan masalah pribadi, coba untuk tidak menyampaikan hal-hal yang terlalu detail atau berlebihan, terutama jika kamu baru mengenal lawan bicara. Fokuslah pada inti cerita tanpa perlu menggambarkan semuanya secara mendetail.
  4. Perhatikan Respons Lawan Bicara
    Saat berbicara, perhatikan reaksi mereka. Kalau mereka terlihat tertarik dan terlibat, berarti mereka nyaman dengan self-disclosure yang kamu lakukan. Tapi kalau mereka mulai tampak canggung atau mengalihkan pandangan, mungkin ini saatnya untuk berhenti atau mengganti topik.
bahaya self-disclosure

Bagaimana Mencegah Self-Disclosure Agar Tidak Berujung pada Oversharing?

Nah, sering kali kita nggak sadar bahwa self-disclosure kita bisa berubah jadi oversharing, apalagi kalau sudah terlalu nyaman atau terbawa suasana. Oversharing adalah ketika kita membagikan terlalu banyak informasi, terutama yang sifatnya terlalu pribadi atau tidak relevan, sehingga membuat lawan bicara merasa canggung atau terbebani. Ada beberapa cara untuk mencegah oversharing:

  1. Sadari Jenis Hubungan yang Kamu Miliki
    Self-disclosure sebaiknya dilakukan sesuai dengan kedekatan hubungan. Jika kamu sedang berbicara dengan rekan kerja, mungkin nggak perlu menceritakan masalah keluarga atau trauma masa lalu. Sesuaikan cerita dengan jenis hubungan yang kamu miliki dengan orang tersebut.
  2. Pertimbangkan Tujuan Cerita yang Kamu Sampaikan
    Sebelum berbicara, coba tanyakan pada diri sendiri, “Kenapa aku ingin menceritakan hal ini?” Jika tujuannya untuk mempererat hubungan atau memberikan konteks dalam obrolan, mungkin itu cerita yang tepat. Tapi jika kamu hanya ingin melampiaskan emosi atau mencari simpati, mungkin ada baiknya dipikir ulang.
  3. Fokus pada Hal yang Memberikan Nilai Positif
    Cobalah untuk membagikan cerita yang bisa memberikan nilai positif, inspirasi, atau pelajaran. Ini akan membuat lawan bicara merasa lebih nyaman dan mungkin juga mendapatkan manfaat dari apa yang kamu bagikan.
  4. Tetapkan Batas Waktu
    Untuk mencegah terlalu lama bicara tentang diri sendiri, tetapkan batas waktu dalam pikiranmu. Jangan sampai cerita yang kamu sampaikan malah mendominasi percakapan dan membuat lawan bicara kehilangan kesempatan untuk berbagi juga.

Contoh Self-Disclosure yang Tepat dan Tidak Tepat

Misalnya, kamu baru saja kenal dengan seseorang di sebuah acara, dan kalian ngobrol tentang pekerjaan. Kamu bisa memulai self-disclosure dengan berbagi cerita ringan tentang pengalaman seru atau tantangan yang pernah kamu hadapi di tempat kerja. Ini bisa memancing koneksi tanpa membuat lawan bicara merasa canggung.

Di sisi lain, jika kamu langsung berbagi tentang masalah pribadi yang sangat berat, seperti masalah keluarga atau keuangan, itu bisa membuat lawan bicara merasa tidak nyaman, terutama jika kalian belum cukup dekat.

Manfaat dan Pentingnya Melakukan Self-Disclosure yang Sehat

Self-disclosure yang tepat bisa mempererat hubungan, membangun kepercayaan, dan meningkatkan rasa saling pengertian. Saat kamu membuka diri, lawan bicara juga cenderung lebih terbuka, sehingga hubungan kalian bisa semakin kuat dan saling mendukung. Tapi ingat, semua itu akan tercapai jika kamu melakukannya dengan cara yang bijaksana.

Mampu mengelola self-disclosure ini juga meningkatkan rasa percaya diri dalam berkomunikasi, karena kamu lebih paham kapan dan bagaimana berbagi informasi pribadi tanpa merasa cemas atau menyesal setelahnya.

Kesimpulan

Self-disclosure adalah seni berbagi diri yang butuh keseimbangan antara keterbukaan dan batasan. Saat dilakukan dengan tepat, self-disclosure bisa menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain secara lebih mendalam. Namun, jika kita melakukannya berlebihan, hal itu bisa menjadi oversharing yang membuat lawan bicara merasa tidak nyaman.

Jadi, ingatlah untuk selalu peka terhadap reaksi orang lain, menyesuaikan cerita dengan hubungan yang kamu miliki, dan menjaga tujuan serta makna di balik self-disclosure itu sendiri. Dengan begini, kamu bisa menikmati manfaat dari self-disclosure tanpa harus khawatir dengan risiko oversharing.

Profil coach Roy Biantoro 
Seorang pengusaha muda yang sering berbagi ke berbagai perusahaan, instansi pemerintah dan lembaga pendidikan. Coach Roy udah membagikan ilmu di bidang penjualan (selling), komunikasi, kepemimpinan, kerjasama tim, pelayanan serta bagaimana meningkatkan motivasi tim.
Ayo rasakan perubahan di tim Anda dengan training bersama coach Roy Biantoro. Hubungi kami di 08954 1283 3285

Ingin Meningkatkan Kepercayaan Diri, Karir atau Bisnis? Yuk Ikut Seminar Public Speaking di Bandung

Mau Ebook & Webinar Gratis

ebook gratis

Silahkan Isi Form Berikut Ini Dulu :

Setelah baca artikel ini kamu pasti bisa tau ciri temen Red Flag & Green Flag. Mana yang cocok buat kamu ?

"Ketika Kamu Menyadari Ada yang Tidak Beres demgan orang di sekitarmu" Pernah nggak sih, kamu bertemu seseorang yang awalnya terlihat sangat menyenangkan, tapi setelah beberapa waktu, kamu mulai merasa ada yang aneh? Misalnya, dia selalu menuntut perhatianmu tapi...

Sekali kali kamu harus digital detox deh, biar kamu tetap bahagia. Yuk pelajari caranya

Kamu sadar nggak sih ??? Coba mikir bentar sejak bangun tidur, tanganmu udah otomatis cari ponsel? Scroll Instagram, cek WhatsApp, lalu buka email kerja. Sebelum mata benar-benar melek, kamu udah sibuk menatap layar. Sampai suatu hari, kamu duduk di meja kerja, tapi...

AWAS ! JANGAN DEKET DEKET ! Energy Vampires ini bahaya buat kamu ! Baca kalau mau mental health sehat !

Kamu pernah ngalamin ini ? ketemu seseorang yang, habis ngobrol sama dia, kamu langsung capek banget? Bahkan sebelum ngobrol, kamu udah ngerasa tegang karena tahu topiknya bakal berat, keluhan lagi, atau drama lagi. Kamu kayak mau menghindar, tapi nggak enak....

Gak masuk akal, masa pakai manifestation bisa bikin kamu sukses ? Masa sih ? Yuk bahas disini.

"Ketika Kamu Berusaha Menarik Hal Baik ke Dalam Hidupmu" Bayangin ini: Kamu lagi duduk sendirian di kafe favorit, sambil scroll media sosial. Tiba-tiba kamu nemu video tentang manifestation. Di video itu, orang bilang, “Kalau kamu benar-benar percaya dan fokus, semua...

Sebelum kamu mimpi mau sukses, menikah punya anak. Beresin dulu inner child kamu. Disini kita bahas caranya.

Kamu masih mengalami ini ? Bayangin kamu lagi duduk sendiri di kamar, tiba-tiba terlintas memori masa kecil—waktu kamu dimarahi cuma karena tumpahin segelas susu di meja makan. Rasanya kayak kamu kembali jadi anak kecil itu: takut, malu, tapi juga sedih karena nggak...

Kamu pasti punya imposter syndrome. Makanya gak bisa sukses Cek ciri cirinya dan solusinya disini. 

"Kamu Pasti Pernah Ngerasa Nggak Layak punya semua yang kamu miliki , Kan?" Kamu pernah nggak, berdiri di depan ruangan penuh orang, siap mempresentasikan proyek yang sudah kamu kerjakan berbulan-bulan, tapi tiba-tiba otakmu mulai ribut? “Ah, aku cuma beruntung aja...

Kamu harus tau ini ! JOMO Rahasia Hidup happy gak usah ngikutin trend.

Kamu pernah nggak, ngerasa bahagia banget waktu nggak ikutan acara yang ramai dibahas teman-teman? Misalnya, ada pesta besar yang semua orang kayaknya wajib hadir, tapi kamu malah memilih malam santai di rumah, nonton serial favorit, atau baca buku yang udah lama kamu...

Ternyata FOMO yang bikin millenial dan gen-z gak bisa kaya, Jangan sampai kamu kena juga ya !

Gak tenang rasanya kamu sedang bersantai di rumah setelah hari yang panjang. Kamu buka Instagram, scroll sebentar, lalu tiba-tiba hatimu terasa aneh. Teman-temanmu lagi hangout di kafe baru, seseorang yang kamu kenal posting foto liburan di Bali, dan ada workshop...

Stop dengerin Motivasi ! toxic positivity gak akan buat kamu jadi sukses.

Cape gak ? Kesel gak ? Kamu baru saja menghadapi hari yang berat di kantor. Proyek besar yang kamu kerjakan selama berminggu-minggu gagal total. Atasan kecewa, timmu frustasi, dan kamu merasa hancur. Saat kamu menceritakan masalah ini ke teman dekat, dia hanya...

Kamu gak mau jadi ODGJ kan ? Makanya Jangan lupa lakukan self care !

Coba ingat momen ini: kamu pulang kerja setelah hari yang sangat sibuk. Deadline bertumpuk, bos terus menekan, dan kolega memintamu membantu tugas mereka. Sampai di rumah, kamu duduk di sofa sambil memegang ponsel, tapi bukannya merasa rileks, kamu malah semakin...