Ada pemandangan yang sering muncul di perusahaan.
Saya tanya,
“Ada masukan?”
Ruangan hening.
Beberapa orang senyum.
Ada yang menunduk.
Saya lanjut,
“Kalau ada ide, silakan ya.”
Semua terlihat paham . Aman. tapi…
Sepi.
Akhirnya keputusan tetap diambil.
Beberapa minggu kemudian, masalah muncul padahal tidak ada kendala saat meeting.
Di titik ini, banyak pemimpin mulai menyalahkan sikap tim.
Padahal sering kali akar persoalannya ada di satu kesalahan komunikasi pemimpin : umpan balik yang hanya satu arah.

Saat struktur membuat terjadinya kesalahan komunikasi pemimpin
Dalam organisasi yang sangat hierarkis, pesan berjalan satu arah:
dari atas ke bawah. AYO NGAKU AJA
Arahan turun dengan cepat. Laporan naik dengan filter.
GAK SEMUA yang kamu dengar itu benar.
Karyawan belajar satu hal penting: diam itu aman.
Menurut riset Gallup, tim yang merasa suaranya didengar memiliki tingkat keterlibatan kerja jauh lebih tinggi. Sebaliknya, kesalahan komunikasi pemimpin yang membuat lingkungan kerja yang minim ruang aman membuat ide kritis menguap sebelum sempat disampaikan.
Masalahnya, pemimpin sering merasa sudah membuka ruang. Katanya demokratis, terbuka, bebas bicara, bebas bersuara. Tapi…
Tim merasakan hal yang berbeda.
Analogi sederhana tentang kesalahan komunikasi pemimpin ini
Bayangkan kamu duduk di kelas. Seorang Dosen Killer Galak dengan muka yang tidak ramah, melotot lalu bertanya,
“Ada yang mau bertanya?”
Nada suaranya datar.
Waktunya mepet karena waktu kuliah sudah habis.
Semua mata hanya tertuju ke muka si Dosen
Sebagian mahasiswa sebenarnya punya pertanyaan.
Namun tangan tetap di meja. (cari aman aja sih)
Di kantor, situasinya serupa. tapi dosen killer itu kamu.
Kenapa umpan balik dua arah sulit terjadi?
Ada beberapa penyebab umum kesalahan komunikasi pemimpin berantakan:
- Jarak jabatan terasa lebar
- Pengalaman masa lalu saat masukan dianggap melawan
- Takut dicap negatif atau sulit diajak kerja sama
Menurut Harvard Business Review, budaya feedback tidak tumbuh dari niat baik saja. Ia tumbuh dari sistem yang membuat orang merasa aman untuk bicara.
Tanpa sistem, keberanian hanya muncul dari segelintir orang.

Solusi praktis untuk mengatasi kesalahan komunikasi pemimpin: sediakan jalur aman untuk berbicara
Ada dua cara yang terbukti efektif dan realistis.
Pertama, jalur komunikasi anonim.
Form digital, survey singkat, atau kotak masukan yang benar-benar dijaga kerahasiaannya.
Manfaatnya:
- Masukan lebih jujur
- Isu sensitif muncul lebih awal
- Pemimpin mendapat perspektif lapangan
Kedua, sesi Town Hall rutin.
Sisakan waktu khusus untuk pertanyaan kritis.Jawab dengan tenang.
Catat masukan di depan semua orang.
Saat tim melihat bahwa pertanyaan tajam tidak berujung konsekuensi negatif, kepercayaan mulai tumbuh.
Berbagai studi budaya organisasi menunjukkan bahwa feedback loop yang sehat mempercepat perbaikan proses dan menurunkan konflik laten.
Mendengar adalah sinyal kepemimpinan
Saat pemimpin memberi ruang bicara, pesan yang sampai ke tim sederhana: “Suara kamu bernilai.” Kamu berhak kok bicara”
Dari sana muncul:
- Ide yang lebih tajam
- Risiko yang terdeteksi lebih awal
- Keputusan yang lebih matang
Feedback dua arah menjaga organisasi tetap waras. Kesalahan komunikasi pemimpin teratasi.
Penutup kecil untuk direnungkan
Coba tanyakan ke diri sendiri:
“Kalau saya jadi staf paling junior, apakah saya berani bicara jujur di forum ini?”
Jawaban jujur dari pertanyaan itu sering membuka banyak hal.
Pemimpin yang kuat tidak hanya terdengar.
Pemimpin yang berpengaruh menciptakan ruang agar suara lain ikut hadir.
Kalau kamu ingin belajar lebih lanjut mengenai teknik komunikasi kepemimpinan kamu bisa pelajari di artikel ini
KALAU KAMU INGIN IKUT KELAS DAN BELAJAR LANGSUNG DENGAN PUBLIC SPEAKING DAN LEADERSHIP COACH BERPENGALAMAN dan memang seorang pemilik bisnis.

