Hari itu, kamu sedang duduk di sebuah kafe, menikmati secangkir kopi setelah hari yang panjang di kantor. Tapi meski suasananya tenang, pikiranmu justru tidak berhenti bergerak. Setiap pintu yang terbuka membuatmu menoleh. Suara tawa dari meja sebelah terasa terlalu keras di telingamu. Bahkan gerakan pelayan yang hanya sedang mengisi air di meja lain membuatmu merasa gelisah.
Bukannya menikmati waktu istirahat, kamu malah merasa tubuhmu tegang, seperti ada sesuatu yang buruk akan terjadi kapan saja. Rasanya seperti berjaga-jaga tanpa henti, walaupun sebenarnya tidak ada ancaman nyata. Kamu mulai bertanya-tanya, “Kenapa aku selalu merasa seperti ini? Apakah ini normal?”

Apa Itu Hypervigilance dalam Psikologi?
Hypervigilance adalah keadaan kewaspadaan yang berlebihan, di mana seseorang terus-menerus memperhatikan lingkungan sekitarnya untuk mencari ancaman, bahkan ketika sebenarnya tidak ada bahaya nyata. Ini sering muncul sebagai respons dari pengalaman traumatis atau situasi stres yang berkepanjangan.
Kondisi ini sering terkait dengan gangguan kecemasan, PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), atau situasi yang membuat seseorang merasa kehilangan kontrol. Misalnya, seseorang yang pernah menjadi korban perampokan mungkin menjadi sangat peka terhadap suara langkah kaki atau pintu yang terbuka.
Ciri-ciri Hypervigilance:
- Merasa selalu gelisah atau waspada.
- Sulit untuk rileks bahkan di lingkungan yang aman.
- Reaksi berlebihan terhadap suara atau gerakan kecil.
- Kesulitan tidur karena perasaan tegang.
- Sulit fokus karena terlalu memperhatikan lingkungan sekitar.
Apa Bahaya dari Hypervigilance yang Tidak Terkelola?
- Kelelahan Fisik dan Mental
Kewaspadaan yang berlebihan membuat tubuh dan pikiranmu selalu bekerja keras, seperti mesin yang tidak pernah dimatikan. Akibatnya, kamu bisa merasa lelah secara fisik dan emosional. - Gangguan Hubungan
Hypervigilance bisa membuatmu sulit mempercayai orang lain. Kamu mungkin sering salah mengartikan niat orang di sekitarmu, yang akhirnya menciptakan jarak dalam hubungan. - Overthinking dan Stres Berlebihan
Orang dengan hypervigilance cenderung membayangkan skenario terburuk, bahkan untuk hal-hal kecil. Ini bisa membuat stres yang tidak perlu dan mempersulit pengambilan keputusan. - Kesulitan Menikmati Kehidupan
Ketika kamu selalu fokus pada potensi ancaman, sulit untuk menikmati momen-momen sederhana dalam hidup.
Adakah Sisi Positif dari Hypervigilance?
Menariknya, dalam dosis kecil dan situasi yang tepat, hypervigilance bisa menjadi kekuatan.
- Kesadaran Lingkungan yang Tinggi
Orang yang memiliki hypervigilance seringkali lebih peka terhadap detail kecil, yang bisa bermanfaat dalam pekerjaan seperti keamanan, investigasi, atau manajemen risiko. - Kemampuan Mengantisipasi Masalah
Hypervigilance membuatmu lebih waspada terhadap potensi masalah sebelum terjadi, sehingga kamu bisa mempersiapkan solusi lebih awal. - Empati yang Tinggi
Orang dengan hypervigilance sering memiliki kepekaan emosional yang tinggi, yang bisa membantu mereka memahami perasaan orang lain lebih baik.

Bagaimana Melakukan Hypervigilance yang Sehat?
Hypervigilance tidak selalu buruk, tapi penting untuk mengelolanya agar tidak mengganggu kualitas hidup. Berikut adalah langkah-langkah praktis:
- Latih Mindfulness
Mindfulness adalah cara untuk membawa perhatianmu kembali ke saat ini, tanpa terlalu memikirkan kemungkinan ancaman di masa depan.- Contoh Praktis: Saat merasa tegang, tarik napas dalam-dalam selama 4 detik, tahan selama 4 detik, lalu hembuskan perlahan selama 4 detik. Ulangi hingga merasa lebih tenang.
- Kenali dan Tantang Pikiran Berlebihan
Coba tanyakan pada dirimu sendiri: “Apakah ancaman ini benar-benar nyata, atau hanya ketakutan yang tidak berdasar?”- Tips: Tuliskan apa yang membuatmu merasa gelisah, lalu cari bukti yang mendukung atau membantah ketakutan itu.
- Buat Zona Aman
Ciptakan lingkungan di mana kamu merasa aman, baik secara fisik maupun emosional. Ini bisa berupa ruangan di rumahmu, atau bahkan waktu khusus untuk dirimu sendiri tanpa gangguan. - Batasi Konsumsi Informasi Negatif
Terlalu banyak membaca berita buruk atau konten negatif bisa memicu hypervigilance. Cobalah untuk membatasi waktu yang kamu habiskan untuk hal-hal ini. - Dapatkan Dukungan Profesional
Jika hypervigilance sudah sangat mengganggu hidupmu, berbicara dengan psikolog atau konselor bisa sangat membantu. Mereka dapat membantumu memahami akar masalah dan memberikan strategi untuk mengatasinya.
Contoh Situasi dan Solusi
Situasi: Kamu selalu merasa gelisah saat berada di tempat umum, karena khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk.
- Solusi: Sebelum pergi ke tempat umum, lakukan latihan pernapasan untuk menenangkan tubuhmu. Fokuskan perhatianmu pada hal-hal positif, seperti tujuanmu ke tempat itu atau orang yang akan kamu temui.
Situasi: Di kantor, kamu sering mengira rekan kerjamu membicarakanmu di belakang.
- Solusi: Alih-alih langsung bereaksi, coba tanyakan pada dirimu, “Apa aku punya bukti nyata untuk perasaan ini, atau ini hanya kecemasan berlebih?”
Kesimpulan
Hypervigilance adalah alarm mental yang kadang terlalu sensitif. Ketika dikelola dengan baik, kewaspadaan ini bisa menjadi kekuatan, tapi jika dibiarkan, ia dapat menguras energi dan kebahagiaanmu.
Jadi, saat kamu merasa terlalu waspada tanpa alasan yang jelas, ingatlah bahwa tidak apa-apa untuk menurunkan “radar”-mu. Hidup bukan hanya tentang berjaga-jaga, tapi juga tentang menikmati setiap momen dengan tenang dan penuh makna. 🌟
Profil coach Roy Biantoro
Seorang pengusaha muda yang sering berbagi ke berbagai perusahaan, instansi pemerintah dan lembaga pendidikan. Coach Roy udah membagikan ilmu di bidang penjualan (selling), komunikasi, kepemimpinan, kerjasama tim, pelayanan serta bagaimana meningkatkan motivasi tim.
Ayo rasakan perubahan di tim Anda dengan training bersama coach Roy Biantoro. Hubungi kami di 08954 1283 3285