Ada momen yang sering terjadi di ruang meeting dengan cara komunikasi leader yang seperti ini
Saya jelaskan panjang lebar.
Pakai istilah strategis.
Kalimat keren JARGON kebarat baratan agar terdengar pintar.
Tim mengangguk serempak. dan….
Saya merasa komunikasi berjalan mulus.
Beberapa hari kemudian, hasil kerja muncul…
ADUH ASTAGAH
arahnya melenceng. detailnya salah. dan saya bertanya dalam hati,
“Tadi kita bicara hal yang sama, kan?”
Sering kali masalahnya ada di satu titik yang jarang disadari pemimpin: jargon yang kebanyakan.

cara komunikasi leader yang membuat pesan kehilangan makna
Di dunia bisnis, istilah teknis memang akrab:
- alignment
- synergy
- leverage
- optimization
- scaling
Di kepala pemimpin, istilah itu jelas. Di kepala tim, istilah itu terdengar asing atau terlalu abstrak. (gak semua peserta meeting paham istilah Inggris)
Menurut riset komunikasi organisasi dan linguistik terapan, pesan dengan istilah teknis tinggi membuat pemahaman turun drastis, terutama pada audiens lintas latar belakang. Orang cenderung diam saat tidak paham, demi terlihat profesional.
Akhirnya, anggukan muncul tanpa kejelasan.
Analogi sederhana biar kamu lebih paham kesalahan cara komunikasi leader ini
Bayangkan kamu datang ke bengkel motor. Mekanik menjelaskan kerusakan dengan istilah mesin yang rumit. Bahasa inggris dan bahasa yang hanya dimengerti mekanik saja. Kamu mendengar… tapi tidak benar-benar paham.
Lalu di dalam hati kamu tanya satu hal sederhana:
“Intinya, motornya kenapa dan perlu diapakan?” Perlu diganti atau bagaimana? Apa pengaruhnya
IYA KAN ???
Di kantor, tim kamu sering ada di posisi itu.
Mereka menunggu versi manusiawinya.
Kenapa cara komunikasi leader sering terjebak jargon?
Ada beberapa alasan umum:
- Terbiasa dengan bahasa internal
- Ingin terlihat kompeten
- Terbentuk dari lingkungan profesional yang seragam
Menurut kajian Harvard Business Review tentang leadership communication (cara komunikasi leader), pemimpin sering lupa bahwa kejelasan jauh lebih berpengaruh dibanding kesan pintar. Bahasa yang terlalu teknis menciptakan jarak psikologis antara pemimpin dan tim.
Jarak itu pelan-pelan mematikan inisiatif.
Solusi praktis: uji bahasa sebelum dipakai
Gunakan satu tes sederhana sebelum bicara atau mengirim pesan:
“Apakah staf magang akan mengerti instruksi ini?”
Jika jawabannya ragu, berarti perlu disederhanakan.
Ganti jargon dengan bahasa sehari-hari:
- “optimalkan proses” → “buat langkahnya lebih ringkas”
- “alignment tim” → “semua orang jalan ke tujuan yang sama”
- “leverage data” → “pakai data ini sebagai dasar keputusan”
Bahasa yang membumi mempercepat pemahaman.
Pemahaman mempercepat aksi.
Riset efektivitas komunikasi menunjukkan bahwa pesan sederhana meningkatkan kecepatan eksekusi dan menurunkan kesalahan kerja.

cara komunikasi leader didengar saat pesan terasa dekat
Bahasa manusiawi membuat tim:
- Berani bertanya
- Berani mengoreksi
- Berani mengambil inisiatif
Pemimpin tetap terlihat kuat, karena kekuatan terasa dari dampak, bukan dari istilah.
Saat semua orang paham arah, kerja bergerak lebih rapi.
Penutup kecil untuk direnungkan
Coba ingat instruksi terakhir yang kamu sampaikan ke tim.
Apakah isinya mudah dibayangkan dalam tindakan nyata?
Atau hanya terdengar keren di telinga?
Saat bahasa turun ke level manusiawi, hasil kerja justru naik ke level yang lebih tinggi.
Kalau kamu ingin belajar lebih lanjut mengenai teknik komunikasi kepemimpinan kamu bisa pelajari di artikel ini
KALAU KAMU INGIN IKUT KELAS DAN BELAJAR LANGSUNG DENGAN PUBLIC SPEAKING DAN LEADERSHIP COACH BERPENGALAMAN dan memang seorang pemilik bisnis.

