Coba jujur sebentar ya.
Pernah ada momen seperti ini:
Saya tanya ke tim,
mereka jawab panjang,
saya angguk-angguk…
lalu di kepala saya sudah sibuk nyusun jawaban.
Saat mereka selesai, saya langsung kasih solusi.
Rasanya produktif.
Rasanya efisien.
Rasanya seperti pemimpin yang sigap.
Tapi beberapa hari kemudian muncul tanda aneh:
Tim makin jarang bicara.
Masukan makin pendek.
Diskusi berubah jadi formal dan hambar.
Di titik ini, biasanya ada satu kendala komunikasi pemimpin yang klasik yang sering luput disadari pemimpin.
Namanya kurangnya mendengar aktif.

Mendengar dan menunggu giliran bicara itu dua hal berbeda
Banyak pemimpin merasa sudah mendengar.
Padahal yang terjadi sering kali hanya menunggu jeda.
Secara psikologi, hal ini dijelaskan dalam riset komunikasi interpersonal oleh Ralph Nichols, tokoh yang memperkenalkan konsep active listening.
Temuannya sederhana dan menohok:
Manusia mendengar rata-rata 125–250 kata per menit, sementara otak mampu berpikir hingga 500 kata per menit.
Sisa kapasitas itu sering dipakai untuk mikir jawaban, bukan memahami lawan bicara.
Akhirnya yang terdengar hanya sebagian.
Sisanya terlewat.
Analogi sederhana biar terasa
Bayangkan kamu datang ke dokter.
Kamu cerita gejala dari awal sampai akhir.
Di tengah cerita, dokter memotong dan langsung kasih resep.
Mungkin resepnya tepat.
Mungkin juga meleset.
Sebagai pasien, perasaan yang muncul sering kali sama:
“Saya tadi sudah cerita panjang, kok rasanya belum selesai didengar.”
Tim kamu merasakan hal yang mirip saat ide mereka langsung disimpulkan terlalu cepat.
Kenapa ini sering terjadi pada komunikasi pemimpin?
Karena peran pemimpin memang identik dengan:
- Memberi arahan
- Mengambil keputusan
- Menjawab cepat
Tekanan waktu juga besar.
Meeting berlapis.
Target menunggu.
Akhirnya mendengar dianggap aktivitas pasif.
Padahal menurut riset Harvard Business Review, komunikasi pemimpin yang dinilai sebagai great listener memiliki tingkat kepercayaan tim dan kualitas keputusan yang jauh lebih tinggi.
Mendengar aktif memperkaya data.
Data memperkuat keputusan.

Solusi praktis: teknik mendengar 80/20
Prinsipnya sederhana dan sangat aplikatif:
80 persen mendengar, 20 persen bicara.
Artinya:
- Tahan dorongan menyela
- Tunda solusi
- Fokus pahami alur pikir lawan bicara
Trik yang sangat membantu adalah paraphrasing.
Untuk meningkatkan komunikasi pemimpin yang baik, Setelah tim bicara, kamu ulang dengan versi kamu:
“Jadi yang kamu rasakan, proses ini bikin tim lelah karena revisinya berulang dan tenggatnya mepet. Saya tangkap seperti itu, ya?”
Efeknya luar biasa:
- Lawan bicara merasa dihargai
- Kesalahpahaman langsung ketahuan
- Diskusi jadi lebih dalam
Teknik ini banyak dipakai dalam dunia coaching dan kepemimpinan modern karena terbukti meningkatkan kualitas komunikasi dua arah.
komunikasi pemimpin : Mendengar aktif menghemat waktu dan meningkatkan efektivitas
Ini bagian yang sering mengejutkan.
Pemimpin yang mendengar dengan sabar justru:
- Lebih jarang mengulang instruksi
- Lebih sedikit konflik tersembunyi
- Lebih cepat sampai ke akar masalah
Menurut laporan McKinsey, banyak kegagalan eksekusi strategi terjadi karena masukan lapangan tidak benar-benar terserap di level pimpinan.
Saat pemimpin berhenti sebentar untuk benar-benar mendengar, keputusan jadi lebih presisi.
Penutup kecil dari komunikasi pemimpin untuk direnungkan
Coba perhatikan meeting berikutnya.
Saat tim bicara, tanyakan ke diri sendiri:
“Saya sedang memahami, atau sedang menunggu giliran menjawab?”
Pemimpin yang kuat terasa dari arah bicaranya.
Pemimpin yang berpengaruh terasa dari caranya mendengar.
Kalau kamu mau, di tulisan selanjutnya saya bisa bahas cara mendengar tanpa kehilangan wibawa di depan tim.
Kalau kamu ingin belajar lebih lanjut mengenai teknik komunikasi kepemimpinan kamu bisa pelajari di artikel ini
KALAU KAMU INGIN IKUT KELAS DAN BELAJAR LANGSUNG DENGAN PUBLIC SPEAKING DAN LEADERSHIP COACH BERPENGALAMAN dan memang seorang pemilik bisnis.

