Kamu baru saja keluar dari ruang rapat setelah perdebatan panas dengan atasanmu. Ada satu momen di mana kamu merasa ingin meledak, ingin mengatakan semua yang ada di pikiranmu. Tapi kamu menahannya. Sebaliknya, kamu hanya tersenyum kecil, mengangguk, lalu keluar ruangan.
Di perjalanan pulang, kamu mulai merasa aneh. Bukannya lega, kamu malah merasa lelah, tegang, dan sedikit kesal. Pikiranmu terus mengulang-ulang apa yang terjadi di ruang rapat tadi. Tapi kamu bilang ke dirimu sendiri, “Udahlah, nggak usah dipikirin.”
Nah, apa yang kamu alami itu bisa jadi adalah salah satu contoh sederhana dari repression dalam psikologi.

Apa Itu Repression dalam Psikologi?
Repression, atau represi, adalah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang digunakan oleh pikiran untuk menekan emosi, pikiran, atau kenangan yang tidak nyaman ke alam bawah sadar.
Misalnya, ketika kamu menghadapi situasi yang bikin marah, malu, atau takut, pikiranmu bisa secara otomatis menyembunyikan emosi itu agar kamu bisa tetap “berfungsi” dalam situasi tersebut. Freud, bapak psikoanalisis, percaya bahwa ini adalah cara alami manusia untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional.
Ciri-ciri repression:
- Kamu sering melupakan peristiwa yang membuatmu sangat marah atau sedih.
- Kamu merasa “baik-baik saja,” tetapi tanpa alasan, tubuhmu sering merasa tegang atau tidak nyaman.
- Ketika diingatkan pada situasi tertentu, kamu merasa gelisah tanpa tahu kenapa.
Apa Bahaya Melakukan Repression Terus-Menerus?
Repression memang kadang diperlukan, terutama ketika kamu sedang di situasi yang tidak memungkinkan untuk menunjukkan emosimu. Tapi kalau dilakukan terus-menerus, efeknya bisa berbahaya, lho.
- Tekanan Emosional yang Menumpuk
Emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Mereka hanya “disimpan” di bawah permukaan, dan lama-kelamaan bisa meledak, biasanya dalam bentuk amarah atau tangisan yang tidak terkendali. - Gangguan Fisik
Banyak penelitian menunjukkan bahwa emosi yang ditekan bisa berdampak pada tubuh, seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, atau bahkan penyakit kronis seperti hipertensi. - Hubungan yang Bermasalah
Ketika kamu terus-menerus menekan emosimu, orang-orang di sekitarmu mungkin merasa sulit memahami perasaanmu. Akhirnya, ini bisa menciptakan jarak dalam hubunganmu dengan mereka. - Kesulitan Mengenal Diri Sendiri
Emosi adalah bagian dari identitas kita. Kalau kamu terlalu sering menekan emosimu, kamu mungkin kehilangan koneksi dengan siapa dirimu sebenarnya.

Bagaimana Melakukan Repression yang Sehat?
Represi bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Ada saat-saat di mana represi memang dibutuhkan, misalnya saat kamu harus tetap profesional di tempat kerja atau menjaga ketenangan di situasi genting. Tapi penting untuk memastikan bahwa emosi yang ditekan tidak menjadi beban yang berlarut-larut.
- Kenali dan Akui Perasaanmu
Setelah situasi yang membuatmu menekan emosimu berlalu, luangkan waktu untuk merenung. Tanyakan pada dirimu, “Apa yang sebenarnya aku rasakan tadi? Kenapa aku merasa seperti itu?”- Contoh: Setelah rapat yang tegang, kamu bisa menulis di jurnal tentang apa yang membuatmu kesal. Dengan menuliskannya, kamu memberi ruang bagi emosimu untuk keluar.
- Ciptakan Waktu untuk Memproses Emosi
Jika kamu tidak bisa menunjukkan emosimu di momen tertentu, pastikan untuk memprosesnya nanti. Jangan hanya menekan dan melupakannya.- Tips Praktis: Meditasi atau berbicara dengan teman yang kamu percaya bisa membantu memproses emosi yang sudah ditekan.
- Gunakan Teknik Relaksasi
Emosi yang ditekan sering membuat tubuh menjadi tegang. Olahraga ringan, yoga, atau pernapasan dalam bisa membantu tubuhmu melepaskan ketegangan. - Berlatih Komunikasi Emosi yang Sehat
Jika situasinya memungkinkan, bicarakan apa yang kamu rasakan dengan orang yang terlibat.- Contoh: Daripada memendam perasaan marah kepada atasan, kamu bisa menjadwalkan diskusi untuk menyampaikan feedback dengan cara yang konstruktif.
- Cari Bantuan Profesional
Jika kamu merasa sering terjebak dalam represi dan itu memengaruhi kesehatan mentalmu, berbicara dengan psikolog atau konselor adalah langkah yang bijak.
Contoh Kasus dan Solusinya
Situasi: Kamu baru saja mengalami konflik dengan pasangan, tapi memutuskan untuk menekan emosi agar tidak memperkeruh suasana.
- Solusi: Setelah suasana tenang, luangkan waktu untuk berbicara dengan pasanganmu. Gunakan kalimat seperti, “Aku merasa sedikit kecewa tadi, tapi aku ingin kita bisa diskusi supaya nggak ada salah paham.”
Situasi: Di tempat kerja, kamu merasa direndahkan oleh rekan kerjamu, tapi memilih diam karena tidak ingin menimbulkan drama.
- Solusi: Tulis email atau catat poin-poin yang ingin kamu sampaikan, lalu ajak rekan kerjamu berdiskusi secara profesional.
Kesimpulan
Repression adalah mekanisme yang membantu kita bertahan di situasi sulit, tapi bukan solusi jangka panjang. Emosi yang ditekan perlu diproses agar tidak menjadi beban yang terus menghantui.
Jadi, kalau kamu merasa sedang menekan perasaanmu, jangan lupa untuk memberinya ruang untuk “berbicara.” Ingat, mengenali dan menerima emosimu adalah bagian penting dari merawat kesehatan mental dan menjalani hidup yang lebih tenang. 🌟
Profil coach Roy Biantoro
Seorang pengusaha muda yang sering berbagi ke berbagai perusahaan, instansi pemerintah dan lembaga pendidikan. Coach Roy udah membagikan ilmu di bidang penjualan (selling), komunikasi, kepemimpinan, kerjasama tim, pelayanan serta bagaimana meningkatkan motivasi tim.
Ayo rasakan perubahan di tim Anda dengan training bersama coach Roy Biantoro. Hubungi kami di 08954 1283 3285