Bayangkan ini, kamu sedang berada di ruang kerja, tenggelam dalam laporan yang harus selesai sebelum jam lima sore. Tiba-tiba, bosmu masuk dengan wajah serius dan berkata, “Ada masalah besar. Klien kita tidak puas, dan kita butuh solusi cepat!”
Kamu langsung merasa dadamu sesak, napasmu jadi cepat, dan pikiranmu terasa seperti rollercoaster. Pilihanmu hanya dua: menghadapi situasi ini dengan penuh semangat (fight), atau merasa terlalu tertekan dan mencari alasan untuk keluar dari ruangan (flight).
Reaksi seperti ini sebenarnya adalah respons alami tubuhmu, yang dikenal sebagai fight or flight response. Tapi, apa itu sebenarnya? Dan bagaimana cara mengelola respons ini supaya tetap sehat? Yuk, kita bahas lebih dalam.

Apa Itu Fight or Flight dalam Psikologi?
Fight or flight adalah respons fisiologis yang terjadi ketika tubuh kita menghadapi ancaman atau tekanan. Konsep ini pertama kali dijelaskan oleh Walter Cannon, seorang ahli fisiologi. Respons ini muncul karena tubuh melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman.
Respons ini bermanfaat dalam situasi yang benar-benar berbahaya. Contohnya, jika kamu menghadapi anjing galak yang tiba-tiba menyerang, tubuhmu otomatis memilih untuk melawan (fight) atau kabur secepat mungkin (flight).
Namun, dalam kehidupan modern, ancaman yang kita hadapi seringkali bukan ancaman fisik, melainkan masalah seperti tenggat waktu kerja, konflik dengan rekan, atau tekanan sosial.
Apa Bahaya Fight or Flight yang Berlebihan?
Respons fight or flight memang bermanfaat dalam situasi darurat, tapi jika terlalu sering diaktifkan, bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mentalmu.
- Stres Kronis
Jika tubuh terus-menerus berada dalam mode fight or flight, kadar kortisol yang tinggi bisa menyebabkan stres kronis, yang berisiko memicu tekanan darah tinggi, gangguan tidur, atau masalah pencernaan. - Pengambilan Keputusan yang Buruk
Dalam mode ini, otak lebih fokus pada respons instan daripada berpikir logis. Akibatnya, kamu mungkin mengambil keputusan yang tergesa-gesa dan kurang tepat. - Masalah Hubungan
Jika kamu terlalu sering bereaksi dengan mode fight, kamu bisa terlihat agresif atau defensif dalam komunikasi. Sebaliknya, mode flight bisa membuatmu menghindari masalah, sehingga konflik tidak terselesaikan.

Bagaimana Menggunakan Fight or Flight yang Sehat?
Respons ini sebenarnya bisa menjadi alat yang bermanfaat jika dikelola dengan baik. Berikut adalah beberapa cara untuk menggunakan fight or flight secara sehat:
1. Kenali Pemicunya
Saat tubuhmu mulai bereaksi, tanyakan pada dirimu sendiri: Apa yang sebenarnya membuatku merasa terancam? Apakah ini ancaman nyata atau hanya tekanan yang bisa diatasi?
- Contoh: Jika bosmu meminta solusi cepat, sadari bahwa ini bukan ancaman fisik. Ini hanya masalah yang butuh fokus dan strategi.
2. Latih Teknik Relaksasi
Pernapasan dalam, meditasi, atau mindfulness bisa membantu menenangkan respons tubuhmu. Ini memberi waktu bagi otakmu untuk berpikir lebih jernih.
- Praktik: Coba tarik napas dalam selama 4 detik, tahan selama 4 detik, lalu hembuskan perlahan selama 6 detik. Ulangi beberapa kali.
3. Pilih Respons yang Tepat
Setelah tenang, tentukan apakah situasi ini membutuhkan mode fight atau flight.
- Fight: Jika masalahnya butuh dihadapi, fokuslah pada solusi.
- Flight: Jika situasinya memang terlalu toksik atau berbahaya, kadang mundur adalah langkah yang bijak.
4. Evaluasi Setelahnya
Setelah situasi mereda, evaluasi bagaimana kamu merespons. Apakah ada cara yang lebih baik untuk menghadapi situasi serupa di masa depan?
Contoh Kasus dan Solusi
Situasi:
Kamu diundang ke rapat dadakan untuk menjelaskan laporan yang belum sepenuhnya selesai.
- Fight Berlebihan: Kamu berbicara dengan nada tinggi dan defensif, mencoba menyalahkan keadaan.
- Flight Berlebihan: Kamu mengatakan kamu tidak siap dan meninggalkan rapat, yang membuat tim kecewa.
- Respons Sehat: Ambil napas dalam, akui bahwa laporanmu belum selesai, dan tawarkan solusi seperti, “Saya akan menyelesaikan poin utama laporan ini dalam satu jam dan segera membagikannya ke semua peserta rapat.”
Kesimpulan
Respons fight or flight adalah mekanisme alami tubuh yang dirancang untuk melindungi kita. Namun, dalam kehidupan modern, kita harus belajar mengelolanya dengan bijak.
Dengan mengenali pemicu, melatih teknik relaksasi, dan memilih respons yang tepat, kamu bisa menggunakan fight or flight sebagai alat untuk menghadapi tantangan dengan lebih tenang dan efektif. Ingat, tidak semua masalah perlu dilawan, dan tidak semua situasi perlu dihindari. Kuncinya adalah keseimbangan.
Jadi, saat kamu menghadapi masalah berikutnya, coba ambil jeda sejenak. Dengarkan tubuhmu, kelola emosimu, dan tentukan langkah terbaik. Kamu pasti bisa, kok! 😊
Profil coach Roy Biantoro
Seorang pengusaha muda yang sering berbagi ke berbagai perusahaan, instansi pemerintah dan lembaga pendidikan. Coach Roy udah membagikan ilmu di bidang penjualan (selling), komunikasi, kepemimpinan, kerjasama tim, pelayanan serta bagaimana meningkatkan motivasi tim.
Ayo rasakan perubahan di tim Anda dengan training bersama coach Roy Biantoro. Hubungi kami di 08954 1283 3285